Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2014

Aku Dan Analis Kesehatan


Analis Kesehatan atau disebut juga Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan adalah tenaga kesehatan dan ilmuan berketerampilan tinggi yang melaksanakan dan mengevaluasi prosedur laboratorium dengan memanfaatkan berbagai sumber daya(KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKES/SK/III/200)

Pada awalnya sedikit janggal dengan kata seorang "Analis Kesehatan", Apa itu Analis Kesehatan ? Apa pekerjaan mereka ? jujur baru sekitar 1,5 tahun ini aku mulai memahami tentang itu. 

Setelah lulus SMA, aku masuk ke salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan yang ada di kotaku dan mengambil jurusan Diploma 3 (D3) Analis Kesehatan (ya walaupun sekarang kampusku sedang bermasalah dengan izinnya, tapi untung kami di pindahkan kesalah satu cabang dari yayasan kampusku itu). 

Alasan pertama aku mengambil jurusan D3 Analis Kesehatan itu karena permintaan keluarga, dan katanya seorang analis kesehatan itu masih besar peluang kerjanya dan banyak di butuhkan di rumah sakit, klinik, laboratorium dan lain sebagainya. Itu membuatku penasaran ingin mengetahui lebih jauh tentang Analis Kesehatan, dan kenapa peluang kerjanya masih cukup besar.

Pada awal-awal mengikuti perkuliahan, aku merasa analis kesehatan itu sama saja seperti prodi-prodi lain. Tapi hari demi hari berlalu dan aku merasakan ada yang berbeda dengan prodi yang satu ini, Dua bulan berlalu dan aku mulai merasa bahwa analis kesehatan itu "mengerikan" dan "menjijikan". 

Putus asa ???????????????????????????????????
Ya, aku sempat merasakan itu. Aku merasa tidak sanggup untuk melajutkan perkuliahan. Karena ternyata pekerjaan seorang analis itu "sangat" menyusahkan, mengerikan, menjijikan, dan menakutkan.
Mengerikan, karena PASTI akan melakukan kontak langsung dengan zat-zat kimia pekat dan berbahaya, dan penyakit-penyakit, kuman, virus, bakteri yang mudah menular.
Menjijikan karena PASTI seorang analis itu melakukan pemeriksaan dengan sempel yang berupa darah, urine, feses, suap anal, dahak, muntah dan benda-benda menjijikan lainnya.

Tapiiiiiiiiiiiiiiii.......
Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan hal-hal "menjijikan" itu, karena menurutku, jika kami (analis kesehatan) tidak mau melakukan kontak dengan benda-benda seperti itu bagaimana kami bisa membantu para dokter untuk mendiagnose penyakit pasiennya, dan bagaimana para pasien bisa sembuh jika tidak di obati dengan diagnose yang benar. 

Makadari itu, menurutku sekarang seorang analis kesehatan itu sangat penting peranannya di dalam dunia kesehatan, Jika diganose dari seorang analis kesehatan itu benar, maka diagnose dokter penanganan dan obat yang diberikan pada pasien itu benar. Sebaliknya jika diagnose seorang analis kesehatan itu salah, maka juga akan berdampak pada diagnose dokter yang juga akan salah dan berimbas pada penanganan kepada pasien dan obat yang diberikan pun salah. Karena diagnose dokter merupakan kesimpulan dari diagnose seorang analis, 


Bersama teman-teman setingkat Analis Kesehatan

Analis Kesehatan


Jumat, 10 Oktober 2014

Dima Bashar





Dima binti Bashar bin Qadri Arafat (bahasa Arabديمة بشار قدري عرفات) atau terkenal dengan Dima Bashar (lahir di NablusPalestina,10 Oktober 2000; umur 14 tahun) adalah seorang penyanyi nasyid berkewarganegaraan Yordania yang berdarah Palestina. Dia bergabung dengan Grup Toyour Al-Jannah (Burung-burung Surga) pada akhir tahun 2008. Dima telah melantunkan banyak nasyid yang mayoritasnya menuai ratio tinggi. Ia adalah adik dari penyanyi nasyid Muhammad Bashar. Selain menjadi penyanyi dia juga aktif sebagai host atau pembawa acara dari beberapa serial acara kuis berhadiah dari Toyour Al-Jannah seperti Bernamij Asykal Alwan dan Fawazirna. Sekarang, Dima beserta beberapa bintang Toyour Al-Jannah lainnya, termasuk saudara laki-lakinya, Muhammad Bashar, telah keluar dari stasiun TV tersebut dan bergabung di stasiun TV Nookids.

Nasyid-nasyid

Singel

  • Kunt Qaidah (كنت قاعدة) (Kala Ku Duduk)
  • Dima Al Ola (ديمة الأول) (Dima yang Pertama)
  • Sanah wara sanah (سنة ورا سنة)
  • Ramadhani Gheir (رمضاني غير)
  • Gheir Baqi al-Ayyam
  • Nada al-Moazzen (ناد المؤذن) (Muazzin Telah Memanggil)
  • Bein al-Mazh wa Bein Al-Jadd (Antara Bercanda dan Serius)
  • Fatahi Ya Wardah (فتحي يا وردة)
  • Keifil Hal (كيف الحال) (Bagaimana Kabarmu)
  • Ahla Sahra (احلى سهرة)
  • Gaza Haina Jena (غزة هينا جينا)
  • Men Addek (مين ادك)
  • Ramadhan Al-Habeeb (رمضان الحبيب) (Ramadan yang Kucintai)
  • Lil 'Asharah (للعشرة)
  • Musy Masmooh Az-Zael El-Youm (مش مسموح الزعل اليوم) (Dilarang Marah Hari Ini)
  • Daftar Adz-Dzikra (دفتر الذكرى) (Album Kenangan)
  • Shadaqah (الصدقة)
  • Tasherni (تسحرني)
  • Dima Ihna Binehbbek (ديمة إحنا بنحبّك) (Dima Kami Mencintaimu)
  • Helween

Nasyid bersama saudara laki-lakinya

  • Wardatouna
  • Lamma Nestashed
  • La Tansa Dzikrallah (Jangan Pernah Lupa Mengingat Allah)
  • Alshatt Yalla Waddini (عالشط يلا)
  • Yslamu Ya Duktur
  • Ya Reit Kull Sanah Ramadhan
  • Fakkir Ya Mohammad (Berpikirlah Muhammad)
  • Ya Rabbi Nushalli fil Aqsha (Tuhan, Kami Ingin Salat di Masjidil Aqsha)
  • Allah Ya Maulana (Allah yang mulia)
  • Al-Jannah (الجنة) (Surga)
  • Shagel Balak (شاغل بالك)
  • 'Almaya (عالمايا)
  • El Afiye (العافية)
  • 'Ala Ayni (على عيني)
  • Ramadhan Yowahhadna

Nasyid bersama Raghad Al-WAzzan

  • Raghouda wa Dima (رغودة و ديمة)

Nasyid bersama Ashoumi Miqdad dan Al-Walid Miqdad

  • Ya Blady Ya Ainayy (يا بلادي يا عيني)





Sabtu, 09 November 2013

ANALISIS NOVEL


1.   Keterangan Novel

Novel yang saya analisis adalah novel angkatan Balai Pustaka yang berjudul Azab dan Sengsara. Ialah salah satu novel karangan  Merari Siregar (1896-1940). Novel ini di terbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1927.

2.   Sinopsis Novel
Suatu senja di pinggiran sungai yang terletak di tengah-tengah kota Sipirok, duduk seorang remaja yang menunggu kekasihnya datang. Remaja itu bernama Mariamin, ia sering di panggil Riam. Kemudian Aminu’ddin sang kekasih hatinya datang, tapi Riam sangat sedih sebab kekasihnya itu datang untuk berpamitan karena ia akan segera pergi ke Medan untuk mencari pekerjaan agar ia bisa menikahi kekasihnya itu.
Aminu’ddin adalah anak kepala kampung A. Ayah Aminu’ddin merupakan kepala kamupung yang terkenal Sipirok, hartanya banyak. Harta itu berasal dari peninggalan orangtua ayah Aminu’ddin, karena ia rajin bekerja, maka hartanya jadi banyak. Ayah Aminu’ddin memiliki budi perkerti yang baik. Dan sifat baiknya itu menuruk kepada anaknya yaitu Aminu’ddin yang memiliki sifat yang baik, cerdas dan rajin
Setelah Aminu’ddin pulang, Riam masuk ke rumah dan menemui ibunya yang sedang sakit. Aminu’ddin dihadapan ibunya. Setelah selesai memberi makan sekaligus menyuapi sang ibu, Riam pergi kekamarnya untuk tidur. Setelah anaknya itu pergi si ibu belum tidur, ia memikirkan masa lalunya. Dulu mereka dikatakan masuk ke golongan orang kaya dan ternama di Sipirok.
Ayah Mariamin yaitu Sutan Baringin merupakan seorang yang kaya dan bergelar bangsawan. Akan tetapi karena Sutan Baringin memiliki sifat yang tamak, pemalas, angkuh, pemarah dan bengis membuat ia istri dan anak-anaknya jatuh miskin. Berulang-ulang kali sang istri melarang suaminya itu untuk berhenti berjudi dan membuat masalah. Tapi sang suami tidak pernah mau mendengarkan istrinya itu, ia lebih mendengarkan perkataan pokrol bambu bernama Marah Sait. Tetapi sang istri tetap sabar dan setia manghadapi suaminya itu.
Aminu’ddin dan Mariamin akrab sejak kecil, mereka juga memiliki hubungan darah karena ibu Aminu’ddin adalah saudara dari ayah Mariamin. Dan Mariamin juga memiliki hutang budi kepada Aminu’ddin karena Aminu’ddin pernah menyelamatka nyawanya saat ia hanyut  terbawa arus sungai saat air sunggai meluap ketika hujan deras.
Saat Sutan Baringin mengijak dewasa, ia dinikahkan oelh ibunya ddengan gadis bernama Nuria yaitu ibu Mariamin. Suatu hari Sutan Baringin mendapat surat dari Deli yang isinya bahwa salah seorang saudaranya akan datang ke kampung halamannya untuk pindah dan meminta separuh dari harta warisannya. Saudara Sutan Baringin itu bernama Baginda Muliam. Mereka adalah saudara sekakek, kakek Sutan Baringin memiliki dua istri, istri mudanya adalah nenek dari Baginda Mulia dan istri pertama adalah nenek dari Sutan Baringin. Sutan Baringin yang memiliki sifat dengki, tamak, angkuh itu tidak rela jika hartanya itu di bahgi kepada orang lain. Ia pun mengajukan kasus itu ke pengadilan, dan ia selalu kalah dalam tiap persidangan. Karena ia tidak puas, ia melakukan banding. Dan ia pun menggunakan saksi-saksi palsu, tapi tetap saja kalah. Lama kelamaan harta bendanya habis hanya untuk membiayai persidangan. Kasus itu pun berlangsung hingga lima tahun lebih.
Setelah jatuh miskin, ia hanya tinggal di gubuk kecil di pinggir sungai. Sutan Baringin jatuh sakit. Ia hanya dapat terbaring lemah tak berdaya, sampai akhirnya ia meninggal. Sepeninggal Sutan Baringin, ibu Mariamin harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mariamin pun ikut membantu ibunya mencari nafkah.
Setelah tiga bulan Aminu’ddin ada di Medan, ia mengirim surat pada Mariamin. Ia memberitahukan kepada Mariamin bahwa  ia telah memiliki pekerjaan, dan Mariamin pun membalas surat dari Aminu’ddin itu. Mariamin sangat bahagia, karena isi surat dari Aminu’ddin adalah meminta Mariamin menjadi  istinya dan ia juga sudah mengirim surat kepada orang tuanya untuk membritahukan hal itu. Tapi ayah Aminu’ddin tidak menyetujui permintaan putranya, walaupun istrinya telah membujuknya, ia tetap pada pendiriaannya. Mariamin mempersiapkan  jamuan untuk menjamu orang tua Aminu’ddin. Tapi orang tua Aminu’ddin tak kunjung datang,  yang  datang adalah surat permintaan maaf yang dikirim oleh  Aminu’ddin. Isinya  ia memberitahukan bahwa kedua orang tuanya berada di Medan dengan membawa gadis lain sebagai calon istrinya. Ia tidak bisa menolak permintaan orang tuanya dan ia tidak ingin mempermalukan kedua orangtuannya dan ia juga tidak ingin durhaka kepada kedua orang tuanya.
Mariamin adalah gadis yang solehah,  ia menerima permintaan maaf Aminu’ddin dan ia menerima semua ini sebagai nasibnya. Setelah sekitar dua tahun Mariamin pun menikah dengan orang  yang belum dikenalnya, laki-laki itu bernama Kasibun. Usianya agak tua, tidak tampan dan ia pintar dalam hal tipu daya, selin itu ia juga mengidap penyakit mematikan yang mudah menular pada pasangannya. Aminu’ddin  mengunjungi Mariamin di rumah suaminya ketika suaminya sedang bekerja. Kasibun sangat  marah setelah dia mengetahui kedatangan  Aminu’ddin, apalagi ketika Mariamin menolak berhubungan suami istri. Kasibun tidak segan-segan menamparnya, memukulnya dan penyiksaan lainnya. Akhirnya karena Mariamin tidak tahan lagi dengan perbuatan suaminya itu, dilaporkannyalah suaminya kepada polisi.  Sampai akhirnya mereka bercerai,  Mariamin terpaksa pulang ke kampung halamannya dengan membawa nama yang kurang baik, membawa malu, menambah azab dan sengsara di hidupnya di rumah kecil yang  terletak di pinggir sungai Sipirok.  Akhirnya Mariamin pun meninggal dengan meninggalkan azab dan sengsaranya di bumi.

3.   Unsur Interinsik Novel

a.     Tema

Tema dari novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar adalah lebih banyak mengarah kepada adat dan kebiasaan yang kurang baik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Sumatra Utara.

b.    Alur

Alur yang terdapat dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar adalah alur campuran. Pertama pengenalan tokoh di waktu senja, sewaktu Amiu’ddin berpamitan kepada Mariamin hendak pergi ke Medan untuk mencari kerja. Lalu menceritakan saat Mariamin dan Aminu’ddin masih kecil dan juga menceritakan tentang orang tua mereka berdua sejak menikah. Kemudian kembali menceritakan Aminu’ddin dan telah mendapat pekerjaan. Setelah itu menceritakan Aminu’ddin yang menikah dengan gadis pilihan ayahnya, setelah hampir dua tahun Mariamin pun menikah dengan soreng laki-laki yang tidak dikenalnya. Kemudian Marimin pun bercerai dengan laki-laki itu dan ia kembali ke kampung halamannya, sampai akhirnya ia meniggal.


c.      Penokohan

Mariamin                            : Baik hati, rajin, penyabar, dan pemaaf
Aminu’ddin                        : Baik hati, rajin, pandai, dan anak yang berbakti
Sutan Baringin                   : Pemarah, pemalas, tamak, angkuh dan bengis
Nuria (ibu Mariamin)          : Penyabar, setia, sederhana
Ibu Aminu’ddin                 : Baik hati, taat dan setia kepada suami
Baginda Diatas (ayah Aminu’ddin)           : Rajin, Bijaksana
Kasibun                              : Bengis, jahat, pintar menipu
Marah Sait                          : Jahat dan penghasut


d.    Latar

1). Tempat

a). Di gubuk di tepi sungai Sipirok
b). Di gubuk di tengah sawah
c). Sungai di Sipirok
d). Rumah besar miliki Mariamin
e). Rumah Kasibun di Medan
f). Kampung A yang kepala desanya adalah Aminu’ddin
g). Kubur Mariamin

2). Waktu

a). Senja
b). Malam hari
c). Pagi hari
d). Siang hari

3). Suasana

a). Sedih
b). Senang
c). Tegang
d). Mengharukan

e.      Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan dalam novel Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar adalah sudut pandang orang ketiga

f.      Amanat

Dalam kehidupan suami istri seharusnya keadaan di tanggung bersama, susah bersama dan senang pun bersama.


4.   Nilai-Nilai Dalam Novel

a.     Nilai Sosial

Nilai sosial dalam novel ini yaitu sikap saling tolong menolong yang dilakukan Aminu’ddin kepada Mariamin

b.    Nilai Budaya

Nilai budaya yang terdapat dalam novel ini adalah budaya dimana orang yang telah dianggap dewasa harus segera dikawinkan. Dan mereka biasanya menjodohkan anak mereka.

c.      Nilai Kepercayaan

Nilai kepercayaan dalam novel ini yaitu saat ayah Aminu’ddin mengajak istrinya pergi ke pada peramal/dukun untuk melihat kehidupan Aminu’ddin dan Mariamin jika mereka menikah.



d.    Nilai Religius

Nilai religius dari novel ini adalah saat ibu Mariamin, Mariamin melaksanakan ibadah.


e.      Nilai Moral

Nilai moral dalam novel ini yaitu sikap Mariamin dan ibunya yang sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan hidup.



5.   Keterkaitan Novel  Dengan Kehidupan Saat Ini
Keterkaitan novel  Azab dan Sengsara karya Merari Siregar dengan kehidupan saat ini yaitu kehidupan Mariamin masih ada yang terjadi di di masa sekarang ini. Sikap ayah Aminu’ddin yang tidak menyetujui  anaknya menikah dengan Mariamin masih banyak terjadi di masa sekarang ini.

Rabu, 30 Oktober 2013

Daur Ulang CD Bekas Menjadi Rak

Daur Ulang CD Bekas

Beberapa waktu lalu guru mapel mulok di sekolah membari tugas
untuk mendaur ulang CD bekas. Awalnya bingung akan di buat 
menjadi apa CD bekas itu, terlintas dalam pikiran ku beberapa 
ide seperti membuat baju, membuat jam, membuat kerangjang, 
tas, dll. Tapi aku memutuskan untuk membuat rak sepatu.

Alat dan bahan yang di butuhkan antara lain :
- Bahan 
CD bekas
Kawat
Kain
Kardus
Kayu
Cat (putih)
Pernis/Plitur

-Alat
Tang
Kuas
Bor /Solder
Jangka
Lem Tembak/Lem bakar
Gunting
Spidol


Cara pembuatanya mudah, asal kita punya niat untuk 
mengerjakannya dan niatnya juga  jangan setengah-setengah....
      Lubangi bagian pinggir CD dengan menggunakan 
solder/bor/bisa juga menggunakan paku yang dipanaskan.

Sebelum

Sesudah




       Setelah itu rangkai CD-CD itu dengan kawat. Kemudian 

letakkan kardus di bagian bawah CD yang akan 
digunakan untuk alas rak.


Setelah dirangkai dengan kawat

Rekatkan kardus di bagian bawah


 .     Lalu buat kerangkan rak dengan menggunakan

 kayu agar lebih kuat dan tahan lama.


Kerangka dari kayu




         Setelah itu rangkai kembali CD kemudian pasang 

pada dua sisi rak


Rangkai CD sesuai dengan sisi rak




      Kemudian, cat bagian permukaan CD dengan 

menggunakan cat berwarna putih agar ­­­­gambar-gambar 
bagian depan CD tidak terlihat. Bisa juga dengan tidak 
menggunakan cat, tapi bagian gambar CD di balik 
menjadi bagian belakang.
















     Setelah cat mengering, lapisi CD dan kerangka 

dengan pernis/pitur agar rak terlihat lebih mengkilap





















      Tunggu plitur/pernis sampai kering lalu tutupi bagian

 dalam rak yang terlihat banyak kawat dengan 
menggunakan kain yang di tempelkan 
dengan menggunakan lem tembak/lem bakar


    Bagian dalam, sebelum dilapisi kain



    Bagian dalam setelah dilapisi kain




    Dan hasil akhir tugas mulok daur ulang CD bekas saya selesai..



    Sabtu, 19 Oktober 2013

    Panglima Burung

     

    Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

    Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

    Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

    Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.

    Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.

    Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkup--yang oleh orang Dayak Ngaju disebutDanum Kaharingan Belum.

    Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

    Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, danmandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

    Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.

    Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual--yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah--dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau--memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.

    Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah--agama manapun--dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

    Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya--entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain--tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.